Random News

Polls

Menurut Anda apa penyebab kematian David ?
 

Who's Online

We have 4 guests online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday135
mod_vvisit_counterYesterday56
mod_vvisit_counterThis week522
mod_vvisit_counterLast week866
mod_vvisit_counterThis month1260
mod_vvisit_counterLast month2580
mod_vvisit_counterAll31675

Online (20 minutes ago): 8
Your IP: 38.107.191.104
,
Now is: 2010-03-11 23:38

Add Davidhartanto.com

free counters

Best viewed with :

Spread Firefox Affiliate Button

Ketekunan Sang Ibu Menulis Kejanggalan Bagian 1 PDF Print E-mail

Iwan Piliang.

Sejak peristiwa pembunuhan David Hartanto Widjaja, 2 Maret 2009 di kampusnya di Electrical Electronic Engineering (EEE), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, tidak berasa waktu berlalu. Persidangan koroner pada 29 Juli 2009 akan sampai di ujung keputusannya. Di tengah saksi, data, bahan dan dokumen yang seakan dipaksakan David bunuh diri, keluarga masih berharap, keputusan pengadilan nanti; melanjutkan kasus ini ke pengadilan kriminal. Mungkinkah? Berikut saya lampirkan eksklusif catatan kejanggalan di bagian bawah naskah ini, ditulis Tjhai Lie Kiun, ibu David, 3.687 kata.


Sejak peristiwa pembunuhan David Hartanto Widjaja, 2 Maret 2009 di kampusnya di Electrical Electronic Engineering (EEE), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, tidak berasa waktu berlalu. Persidangan koroner pada 29 Juli 2009 akan sampai di ujung keputusannya. Di tengah saksi, data, bahan dan dokumen yang seakan dipaksakan David bunuh diri, keluarga masih berharap, keputusan pengadilan nanti; melanjutkan kasus ini ke pengadilan kriminal. Mungkinkah? Berikut saya lampirkan eksklusif catatan kejanggalan di bagian bawah naskah ini, ditulis Tjhai Lie Kiun, ibu David, 3.687 kata.

JULI menjadi bulan istimewa buat saya. Tepat 16 Juli 2009 tahun ini usia bertambah lagi. Waktu lalu 45 tahun. Dan di pagi hari, saya sudah meninggalkan rumah menuju Medan. Sumatera Utara.

Adalah Forum Sahabat dan Sahabat Center, Sumatera Utara, mengundang ke Medan. Melalui Aulia Andri, ketua Sahabat Center dan Brilian Moktar - - sosok yang terpilih menjadi anggota DPRD Sumut tahun ini - - Ketua Forum Sahabat, berinisiatif mendatangkan saya. Mereka memprakarsai beberapa kegiatan mendukung gerakan menggalang publik Medan, bersuara agar pemerintah Singapura menjalankan proses persidangan berlaku adil terhadap kasus David.

Siang menjelang.

 

Saya sudah duduk di Ho Teh Thiam (HTT), sebuah kedai teh dan makanan bersuasana oriental. HTT banyak dikunjungi penikmat teh ala Cina: tempat minum puer (baca: pu-e). Di tengah ruangan, di tempat kami duduk berkelompok meja kayu segi empat dengan bangku persegi panjang. Di langit-langit beberapa lampion merah menggantung.

Menatap ke lantai dua, mengantar ingatan ke seting sejenis laksana atmosfir di film-film silat Mandarin. Saya membayangkan para jagoan, menenggak minuman, lalu baku hantam sehingga bangku dan meja luluh lantak.

Namun siang itu, kami tentu tak saling pukul. Yang ada adalah begitu Brilian Moktar, menyeduhkan teh puer yang hitam, berusia tua, dalam hitungan tak lebih 30 detik, lalu membagi rata ke cawan kecil teh, maka telunjuk menekan meja berulang-ulang.

“Simbol menyatakan terima kasih, kepada kawan yang menyeduhkan,” ujar Brilian.

Jadilah kesempatan itu sebagai momen kekeraban, bersulang dengan hati senang.

Malam harinya, kami siaran di Radio MixFM, yang dipancarkan nasional via web oleh Bestfm Medan. Acara yang semula hanya dirancang 1,5 jam itu, berlanjut hampir dua jam. Pertanyaan yang datang ke Mix bertubi. Sehingga malam itu rasa optimis akan aksi Damai di Bundaran Majestik oleh berabagai elemen masyarakat Medan, akan berjalan meriah.

Bum!

Pagi mejelang pukul 8 di Jumat, 17 Juli 2009 itu bom menguncang Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Kami semua menjadi lemas, bisa dipastikan liputan kegiatan Medan untuk David akan tenggelam karena adanya bom. Namun kegiatan tetap berjalan, bahkan aksi melepaskan merpati di tengah kota pun jadi.

Melihat semangat kawan-kawan Medan berantusias terhadap kasus ini, saya lalu menemukan sebuah kalimat: Saya merasa Indonesia setelah Medan ada.

“Kami sepakat bahwa David dibunuh, dan kematiannya harus menjadi perhatian kita semua, terlebih pemerintah,” tutur Brilian.

Benar saja keesokan hari tak ada liputan kegiatan Medan di media di Jakara. Hal ini sudah untuk kesekian kali, soal kasus David ini seakan tergilas oleh beragam berita; pemilu caleg, pilpres, kasus Manohara, kasus Antasari Azhar dan kini urusan berita Bom. Padahal kematian David sesungguhnya dalah bom kemanusiaan, mengingat setelah menjadi jasad pun ia difitnah menusuk profesor, melukai nadi sendiri, lalu lompat bunuh diri.

Karenanya atas inistif publik, 22 Juli 2009 digelar lagi jumpa pers di Rajas Cafe, Senayan City.

“Dari hasil kami memasukkan submission pada 15 Juli lalu di Singapura, sebagai bahan pertimbangan hakim membuat keputusan, kami mendapatkan konfirmasi bahwa kematian David memang sebuah konpirasi”

Begitu Hartono Widjaja, ayah David menjelaskan kepada wartawan di Jakarta.

OMONGAN kematian David dibunuh karena konspirasi mengingatkan saya kepada tulisan Sketsa tentang David di awal kasus. Saya memperhatikan Tjhai Lie Kiun, ibunya David menghidangkan sebuah piring kecil di ruang tamunya. Di atas piring ia tempatkan sebuah apel dikupas dibelah empat.

“Silakan dimakan, kami tak ada apa-apa.”

“Sejak kepergian David saya tak ke dapur, tidak pegang pisau.”

“David sejak kecil juga tidak pernah pegang pisau”

“Juga tak pernah ngupas buah. Dia di Singapur minum jus.”

Begitu Tjhai berutur ketika saya pertama kerumahnya minggu kedua Maret 2009 lalu.

Kala itu, Thjai melihatkan jadwal dan mata kuliah David di smester akhir. Saya meminta izin untuk memfoto-kopi. Namun dengan cekatan Tjhai mengatakan, “Sini saya tuliskan sebentar.”

Benar saja tak sampai sepuluh menit Thjai datang dengan catatan rapi tentang jadwal anaknya itu.

Ketekunan menulis itu rupanya berlanjut ketika seluruh persidangan koroner berakhir.

“Sekarang setiap hari hingga larut malam ibunya David menulis catatan keterangan saksi, mengkritisi titik-titik kejanggalan dan kebohongan para saksi,” tutur Hartono, sang suami.

Harus saya akui sebagai seorang reporter yang hadir di ruangan persidangan, catatan saya tidak selengkap catatan Tjhai.

Untuk lengkapnya, catatan tentang saksi-saksi yang berlepotan di ruang persidangan, 3.600 kata lebih itu sebagaimana di bawah ini:

 

Bersambung ke bagian 2.....

Ketekunan Sang Ibu Menulis Kejanggalan Bagian 2

 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
 
Joomla Templates by Joomlashack